KENUSANTARAAN
Trilogi Nusa Putra Sebagai Nilai Kehidupan Bagi Seluruh Insan Nusa Putra
Bismillahirah'manirahim
Assalamu'alaikum Wr.Wb
Sumber: https://nusaputra.ac.id/id/tentang/nilai-nilai-luhur/
Perkenalkan nama saya Nurzira Oriza mahasiswa S1 Program Studi Sistem Informasi dengan NIM 20240050049 Universitas Nusa Putra Sukabumi Jawa Barat. Universitas Nusa Putra memiliki nilai-nilai luhur sekaligus juga manisfesto dalam perjuangannya meraih visi misi. Nilai-nilai luhur ini kita sebut Trilogi Nusa Putra, yang dimana menjadi ajaran bagi seluruh insan Nusa Putra.
TRILOGI NUSA PUTRA
Cinta kasih kepada Tuhan
Cinta kasih kepada orang tua
Cinta kasih kepada manusia
Dari Trilogi Nusa Putra tersebut, saya akan menjelaskan bagaimana nilai-nilai tersebut di terapkan baik di Universitas Nusa Putra itu sendiri atau di masyarakat luas
1. Amor Deus (Cinta kasih kepada tuhan)
“Agama adalah kebutuhan jiwa dan bentuk cinta kita kepada Tuhan, bukan sekadar kewajiban. Cinta kepada Allah adalah rasa kasih yang paling dalam, yang membuat hati selalu ingin mendekat, patuh, sabar menghadapi cobaan, bersyukur atas nikmat, dan tak henti berdoa. Segala harapan dan cinta sejati kita bermuara pada-Nya.”
Gambar Al-Qur'an dan sajadah ini mengingatkan kita: cinta kepada Tuhan itu bukan cuma kewajiban, tapi kebutuhan hati yang paling dalam. Agama itu bukan beban, tapi jalan menuju ketenangan dan makna hidup.
Membuka Al-Qur'an berarti mencari petunjuk dan meresapi cinta-Nya. Bersujud di sajadah artinya merendahkan diri, mencurahkan isi hati, dan bersyukur. Ka'bah di sajadah jadi pengingat arah kiblat hati kita.
Cinta kepada Allah itu murni dan agung. Hati yang mencintai-Nya akan selalu rindu, patuh, sabar, dan bersyukur. Ia tak pernah lelah menyebut nama-Nya dalam doa, karena kepada-Nya lah segala harapan dan cinta sejati bermuara.
Membaca Al-Qur'an dan bersujud bukan sekadar ritual. Ini adalah wujud cinta yang membawa damai, ikhlas, dan berkah. Mari jadikan setiap momen ibadah sebagai pengingat untuk memperbarui cinta kita kepada Tuhan.
2. Amor Parentium (Cinta kasih kepada Orang Tua)
“Sebagai kekuatan insan Nusa Putra untuk menjaga ajaran dan nilai-nilai- luhur rasul, leluhur, kedua orangtua dan guru-guru kita serta orang orang soleh sebelum kita”
Berbakti kepada orang tua adalah bentuk pengabdian yang paling tulus dan suci, lahir dari kesadaran akan segala pengorbanan tanpa pamrih, doa-doa yang tak pernah putus, serta cinta yang mereka tanamkan sejak kita belum mengenal dunia. Mencintai orang tua bukan hanya tentang ucapan dan perhatian, tetapi juga tentang kesabaran dalam melayani, keikhlasan dalam merawat, dan kerendahan hati untuk selalu memuliakan mereka. Karena ridha Allah terletak pada ridha orang tua, dan surga pun terbuka bagi mereka yang menjadikan cinta kepada ayah dan ibu sebagai jalan utama menuju keridaannya.
Seperti foto di atas, sebuah momen sederhana namun penuh makna bersama keluarga. Terlihat ayah dan ibu saya, ditemani oleh salah satu saudara dan adik saya, sedang menikmati waktu di sebuah rumah makan. Bagi kami, momen seperti ini sangatlah berharga. Orang tua saya, khususnya, tergolong jarang sekali bepergian atau sekadar menikmati santapan di luar rumah. Keseharian mereka lebih banyak dihabisirkan di rumah, dengan rutinitas yang mungkin terasa monoton.Maka, ketika salah satu kakak saya merayakan momen kelulusan dan wisuda, kami pun berinisiatif untuk mengajak orang tua kami keluar, menikmati suasana baru dan hidangan di rumah makan. Dan sungguh, kebahagiaan itu terpancar jelas. Senyuman lebar dan kehangatan yang tulus terlihat di wajah mereka. Mungkin bagi sebagian orang ini hanyalah hal kecil, tetapi bagi kami, melihat senyum mereka adalah kebahagiaan yang tak ternilai harganya. Momen kebersamaan seperti inilah yang menjadi pengingat bahwa cinta dan perhatian sekecil apapun yang kita berikan, akan selalu menjadi berkah bagi mereka, dan juga bagi kita.
3. Amor Concervis (Cinta kasih kepada sesama)
“Insan Nusa Putra diikat oleh prinsip hidup damai berdampingan, menerima bahwa perbedaan adalah bagian dari kehendak Tuhan. Oleh karena itu, perbedaan bukanlah halangan, melainkan sesuatu yang harus disikapi dengan kedamaian.”
Melihat dua potret kebersamaan ini, yang satu menampilkan kehangatan keluarga dan yang lainnya keceriaan persahabatan sekelompok anak muda di Sukabumi, kita diajak merenungkan esensi trilogi cinta kasih kepada sesama. Konsep ini mengajarkan bahwa sebelum kita mampu mencintai orang lain sepenuhnya, kita perlu menumbuhkan cinta dan penerimaan terhadap diri sendiri, merawat fondasi kasih sayang dalam keluarga sebagai sekolah pertama cinta, dan kemudian meluaskan cinta tersebut kepada teman-teman dan komunitas yang lebih luas, merangkul segala perbedaan yang ada. Cinta kepada diri sendiri menjadi fondasi kekuatan untuk memancarkan energi positif, sementara cinta dalam keluarga memberikan kita pelajaran berharga tentang empati dan dukungan. Akhirnya, cinta kasih kepada sesama memungkinkan kita untuk merajut harmoni dalam keberagaman, menyadari bahwa perbedaan adalah anugerah yang memperkaya kehidupan.
Comments
Post a Comment